SEKOTENG PAK WAN

IMG_4502

Kalo mendengar nama Sekoteng pasti pikiran kita akan tertuju pada sebuah minuman hangat yang berbumbu jahe dan rempah-rempah lainnya. di Pekalongan Sekoteng bukanlah sebuah minuman hangat dengan berbumbu jahe dan kawan kawannya namun merupakan minuman yang menyegarkan dengan perpaduan Es, Susu, Sirup,  Roti Tawar, Miswa (bahan untuk campuran adonan roti yang terbuat dari ketan). Sirup yang digunakan pun merupakan sirup produksi sendiri oleh Pak Wan.

IMG_4505IMG_4509

Warung Sekoteng dan Nasi Pak Wan sudah ada sejak tahun 1989, sekarang sudah generasi kedua yaitu Pak Abdullah sebagai penerusnya. Sekoteng Pak Wan menjadi salah satu rekomendasi bagi masyarakat pekalongan untuk menikmati kesegaran sebuah minuman es. Sudah banyak masyaraat yang menjadi pelanggan di Warung Pak Wan, selain menikmati Sekoteng di waung Pak Wan juga menyediakan Nasi Megono dengan berbagai menu dan bumbu seperti acar, oseng tempe, mie bihun.untuk menikmati seporsi Sekoteng cukup dengan Rp. 7.000.

SENSASI KENIKMATAN RASA DAN HISTORIS TAUTO PEKALONGAN …

Soto,,,,Masyarakat Indonesia pasti sudah mengetahui kuliner yang satu ini. Dipenjuru nusantara ada berbagai macam Soto terutama di Jawa Tengah. Jenis Soto di Jawa Tengah ada Soto Kudus, Soto Sokaraja, Sauto Tegal, Soto Bokoran Semarang, dan lain – lain. Soto sebelumnya berasal dari nama makanan China bernama Chaudo yang pertama kai dipopulerkan di wilayah Semarang.

Di Kota Pekalongan ada kuliner Soto yang sangat legendaris, orang pekalongan menyebutnya Tauto. Tauto merupakan perpaduan antara Soto yang dicampur dengan bumbu Tauco. Tauto di Kota Pekalongan menggunakan daging kerbau, namun ada pula yang menggunakan daging ayam. Tidak ada perbedaan antara Tauto yang menggunakan daging kerbau ataupun daging ayam, semuanya merupakan satu kelezatan yang wajib untuk dicoba.

IMG_4316

Kalo melihat sejarah Tauto di Kota Pekalongan, saya membaca sebuah buku yang berjudul Pekalongan (yang) Tak Terlupakan karya M. Dirhamsyah. Dibuku tersebut beliau bercerita bahwa penjual Tauto dulunya merupakan Orang China dengan bentuk fisik rambutnya yang berkucir (tauchang)  dimana dia menjual Tauto dengan cara dipikul, keluar masuk kampung yang dibantu oleh seorang asisten orang pribumi asli. Tauto Pekalongan merupakan perpaduan antara bumbu dari China yang diolah dengan bumbu lokal. Tauco dan Mie Putih atau Soun sendiri merupakan produksi dari China, sedangkan daging dan bumbu pendukung lainnya dari produk pribumi (lokal).

IMG_4321

Di Kota Pekalongan banyak dijumpai penjual Tauto, salah satu yang menjadi favorit saya adalah Tauto Pak Rochmani. Di Warung Tauto Pak Rochmani sudah ada sejak 30 tahun yang lalu, untuk jam bukanya mulai jam 09.00 pagi sampai sore hari jam 16.00 di kios Pasar Sayun, Pekalongan. Tauto Pak Rochmani cukup terkenal di kalangan masyarakat Kota Pekalongan begitupula dengan wisatawan dari luar daerah ketika berkunjung ke Kota Pekalongan pasti mencicipi Tauto Pak Rochmani. Warung Tauto Pak Rochmani sekarang sudah generasi kedua, anaknya yang bernama Bu Tri menjadi penerus setelah Pak Rochmani meninggal dunia. Meskipun sudah generasi kedua namun rasa Soto Tauto nya tidak berubah.

IMG_4320

Untuk membuat Tauto, warung Tauto Pak Rochmani menggunakan bumbu bumbu dari adonan tauco yang dicampur dengan garam, bawang merah, bawang putih, cabe merah, kemiri, merica, ketumbar, lengkuas, jahe, daun salam, daun jeruk.

IMG_4322

Bagi anda yang tidak suka daging bisa memilih lauk yang lain seperti Usus, Babat, ilat (Lidah) atau jeroan yang lainnya. Dalam satu mangkok Tauto diberi pula tambahan daun bawang dan Mie Soun umtuk menambah kelezatan Tauto. Yang unik dari Tauto Pekalongan adalah penggunaan kecap yang harus produk Kecap Lokal Pekalongan, ini yang diterapkan juga di Tauto Pak Rochmani.. beberapa warung tauto di pekalongan pernah menggunakan kecap produk luar daerah begitupula dengan Tauto {ak Rochmani, namun rasa tautonya tidak begitu sedap beda kalo menggunakan kecap lokal. Bagi anda yang ingin menikmati Tauto Pak Rochmani satu porsi Tauto Pak Rochmani seharga sekitar Rp 15.000 – Rp. 17.000

IMG_4324

Beberapa bulan yang lalu saya bersama Tim Ekspedisi Warisan Kuliner Nusantara mendokumentasikan Tauto Pak Rochmani. Bu Tri sebagai penerus Pak Rochmani banyak bercerita mengenai suka duka Almarhum Bapaknya ketika berjualan Tauto, dari mulai tidak mempunyai pelanggan hingga sekarang mempunyai pelanggan dari penjuru daerah, tidak hanya di Kota Pekalongan. Tidak salah jika saya bersama Tim Ekspedisi Warisan Kuliner memberikan penghargaan kepada Warung Tauto Pak Rochmani, karena eksistensinya sampai saat ini berjualan Tauto secara tidak langsung mendatangkan banyak wisatawan yang berkunjung ke Kota Pekalongan meskipun dengan mencicipi Kuliner Khas seperti Tauto ataupun kuliner yang lain.

blog jateng

Tulisan blog ini diikutsertakan dalam rangka blog competition periode III dengan tema “Wisata Kuliner Jawa Tengah” yang diadakan oleh Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Provinsi Jawa Tengah

Kampung Layur, Sebuah Kampung Indah Yang Tersembunyi..

Kampung Layur salah satu kampung tua di Kota Semarang, yang memiliki karakteristik sebagai kampung multi etnik dengan mayoritas masyarakatnya bermata pencaharian sebagai pedagang dan beragama Islam. Hari itu saya berkesempatan mengunhungi Kampung Melayu atau Kampung Layur melalui informasi dari teman saya.

IMG_2790

Sepanjang kaki saya melihat sebuah keunikan dimana nasyarakat Kampung Layur ternyata merupakan masyarakat multi etnik, disamping terdiri dari masyarakat asli Semarang juga terdapat etnik lain yang berasal dan luar Semarang seperti etnik Arab Hadramaut, Tionghoa, Melayu, Cirebon, Banjar, Koja dan lain-lain. Keberagaman etnik masyarakat kampung Melayu berpengaruh terhadap toponim/lorong/koridor yang ada di kampung Melayu Semarang, seperti kampung Banjar, kampung Cerbonan, kampung Pencikan, kampung Peranakan dan sebagainya.

Informasi yang saya dapat dari seorang masyarakat disana, keberadaan kampung layur tidak dapat dilepaskan dari proses morfologi kali (sungai) Semarang dan kanal baru, di mana kali Semarang merupakan embrio kampung Melayu. Boom lama (pelabuhan lama) adalah tempat di mana para pedagang mendarat di dusun darat (menuju ke darat) dan ngilir (menuju ke hilir) yang juga merupakan tempat berlabuhnya ‘jungkung’ (kapal kecil), yang kemudian ke-dua dusun tersebut bergabung menjadi sebuah dusun besar. Dusun besar tersebut kemudian menjadi asal-muasal kampung Layur Semarang, yang pada awalnya terbagi menjadi 3 kelurahan yaitu, kelurahan Dadapsari, Melayu Darat dan Banjarsari. Sejalan dengan kemajuan perdagangan di Semarang, baik ekspor maupun impor yang semakin berkembang setiap tahunnya. Penguasa Kolonial kemudian memindahkan pelabuhan Semarang ke tempat yang Iebih baik yaitu dengan membuat sebuah kanal baru yang sering disebut oleh orang Tionghoa sebagai ‘singkang’ Kanal Baru tersebut dibangun pada tahun 1873 yang difungsi kan untuk memotong aliran kali Semarang yang terlalu panjang. Pembangunan kanal baru ini memakan waktu 2 tahun (1873-1875), dengan panjang kanal 1180 meter dan lebar 23 meter. (Liem Thian Joe, 1933)

Artviewer2279Artviewer2278

Di Kampung Layur terdapat nama – nama gang atau masyarakat menamai kampung dengan variasi nama yang berbeda-beda, seperti :

  • Darat atau ‘ndarat’ : dinamakan darat atau ‘ndarat’ adalah karena ditempat ini dulunya orang pertama kali mengunjungi Semarang mau mendarat. Pada daerah darat ini banyak terdapat orang yang melakukan aktivitas bongkar muat barang dan kapal-kapal yang berlabuh.
  • Ngilir atau ‘ngili : nama ngilir diambil dan perkataan ‘ngili’ yang artinya mengalir, karena letak dusun ngilir yang berada ditepi kali Semarang, yang sekarang jadi mulut kampung Melayu Semarang.
  • Kampung Kali Cilik : dinamakan kampung kali Cilik karena terdapat sungai kecil (‘kali ciIik’/bahasa Jawa) di kampung tersebut. Kali cilik ini merupakan anak sungai dari kali Semarang, pada waktu dahulu ‘jungkung’ (kapal kecil) dapat masuk melewati sungai kecil ini sampai dengan tahun 1955.
  • Kampung Pencikan : dinamakan ‘pencikan’ karena penduduknya kebanyakan orang Melayu, dimana mereka memanggil dengan sebutan ‘encik’.
  • Kampung Geni Besar : asal muasal nama kampung Geni Besar menurut Arsjad, tokoh kampung Geni Besar, di karenakan dahulu pernah terjadi kebakaran besar di kampung ini. (Geni dalam bahasa Jawa berarti ‘api’)
  • Kampung Cerbonan : dinamakan kampung Cerbonan, karena dulu di kampung ini ada seorang tokoh asal Cirebon yang cukup berpengaruh dan dihormati oleh masyarakat kampung.
  • Kampung Banjar : dinamakan kampung Banjar, karena mayoritas penduduk kampung Banjar dahulunya adalah etnik Banjar.
  • Kampung Pranakan : dinamakan kampung Pranakan, karena sebagian besar penduduk kampung tersebut merupakan masyarakat keturunan etnik Arab Hadramaut.
  • Kampung Baru : dinamakan Kampung Baru, karena kampung Baru merupakan kampung yang didirikan belakangan, dengan kata lain relatif baru dibandingkan dengan kampung-kampung yang lain, yang menarik di kampung Baru ini dulunya masyarakat yang menghuni kampung Baru ini hanya etnik Banjar dan etnik Arab Hadramaut, dimana kedua etnik ini hidup berdampingan secara damai. Begitu eratnya kemasyarakatan mereka, sehingga mereka telah menganggap seperti saudara, hal ini dapat dicermati dengan adanya lorong yang menerus, dimana antar rumah di kampung Baru ini saling berhubungan satu sama lain.
  • Kampung Pulo Petekan : dinamakan kampung Pulo Petekan karena bentuk blok kampung ini menyerupai pulo serta dikarenakan letak kampung ini yang tepat berada di mulut jalan Petek.

Salah satu tempat yang cukup menarik bagi saya adalah sebuah masjid yang masih berdiri tegak, kalo dilihat bentuk bangunannya masjid tersebut berusia cukup lama. Masjid Layur, begitu masyarakat menyebutnya. Masjid Layur atau yang biasa disebut dengan Masjid Menara, merupakan bangunan masjid tua di Kota Semarang yang didirikan sekitar tahun 1802.  Masjid ini dibangun oleh para pedagang Arab, pada awalnya bangunan masjid terdiri dari dua lantai, tapi karena adanya banjir Rob bangunan masjid pada lantai satu tidak lagi berfungsi sebagai tempat ibadah. Masjid mengalami peninggian tanah sekitar dua hingga tiga meter untuk menghindari banjir Rob.

Untitled

Setelah puas jalan-jalan tidak lupa saya menikmati khazanah kuliner di Kampung Layur, kebetulan pagi hari menjadi waktu yang tepat bagi saya ketika jalan-jalan di Kampung Melayu., karena pada pagi hari ada beberapa pedagang yang menjual kuliner khas.

3

Salah satu kuliner yang saya coba adalah Nasi Merah. Nasi merah ini dibuat dengan beras merah, yang menjadi unik adalah lauknya menggunakan uraban(urap) yang berbumbu kelapa serta kulit sapi/ trecek berbumbu rendang. Kemasan nasi nya cukup mearik, yakni hanya menggunakan daun pisang. Hanya ada satu pedagang nasi merah di kampung layur, dimana yang menjual adalah ibu-ibu yang cukup tua dengan berjualan dipinggir jalan.

Kampung Layur bagi saya adalah sebuah kampung yang indah dengan perpaduan multietnis terbentuk dalam kondisi sosial masyarakatnya, bentuk bangunan rumahnya, serta khazanah kullinernya. meski kondisi saat ini terkikis oleh rob namun keunikan bangunannya masih dapat dinikmati dengan indah. untuk menuju ke Kampung Layur, lokasinya sangat dekat dengan Stasiun Tawang Semarang, bisa ditempuh dengan berjalan kaki.

Kampung Arab di Kota Pekalongan

Mendengar istilah Kampung Arab mungkin di beberapa daerah terdapat sebuah kampung dimana masyarakatnya didominasi oleh orang-orang arab. Begitupula di Kota Pekalongan, akulturasi masyarakat di Kota Pekalongan cukup beragam, tidak hanya masyarakat pribumi saja yang mendiami namun ada juga masyarakat yang beretnis cina dan arab, sehingga di Kota Pekalongan cukup terkenal akulturasi masyarakatnya dengan istilah ARWANA (Arab-Jawa-Cina).

Bicara tentang Kampung Arab mungkin sebagian besar masyarakat Pekalongan kurang begitu familiar dengan historis atau sejarah dari kawasan tersebut, untuk itu Festival Kalonganan mengadakan kegiatan Mengenal Sejarah Kampung Arab Pekalongan. Pemilihan Kampung Arab menjadi lokasi kegiatan dikarenakan historis dari Kampung Arab itu sendiri, dimana terdapat masjid Wakaf yang cukup melegenda serta cerita mengenai Kampung Arab yang dulu menjadi pusat perdagangan mori se Nusantara.

Kampung Arab di Kota Pekalongan terdiri dari 3 Kelurahan, yaitu Kelurahan Sugihwaras, Kelurahan Klego, Kelurahan Poncol. 3 lokasi tersebut sebagian besar penghuninya adalah masyarakat Arab, meskipun ada beberapa masyarakat pribumi namun jumlahnya tidak banyak. Kelurahan Sugihwaras menjadi kawasan yang paling dominan didiami oleh masyarakat Arab, hal ini dikarenakan cikal bakal dari Kampung Arab itu sendiri yang berdiri pertama kali di Kelurahan Sugihwaras terutama di sekitar Jalan Surabaya..

Awal mula sejarah Kampung Arab terjadi di tahun 1800an, dimana seorang ulama dari Hadramaut Habib Husein Bin salim Alatas datang ke Pekalongan bersamaan dengan masa-masa pemerintahan kolonial belanda masuk ke wilayah Pekalongan. Pada waktu itu wilayah tersebut masih merupakan hutan belantara. Hal pertama yang dilakukan oleh beliau adalah mendirikan Masjid, sekarang Masjid ini masih berdiri kokoh (Masjid Wakaf). Keinginan beliau mendirikan Masjid adalah meniru teladan Rasulullah apabila hijrah pada suatu tempat yaang dikunjungi, pertama kali yang didirikan adalah Masjid. Dengan adanya Masjid orang akan terpacu melakukan ibadah agamanya di tempat itu, dan hal ini merupakan awal dari interaksi sosial dengan masyarakat yang ada disekelilingnya.

masjid wakaf - foto Tri Adi Nugroho

Pada akhirnya, setelah pembangunan Masjid itu, orang-orang arab mulai berdatangan, karena kabar berdirinya masjid wakaf yang semakin ramai sudah masuk kesana, sehingga komunitas-komunitas arab mulai berdatangan yang didominasi oleh orang-orang Hadramaut, Yaman. Kedatangan komunitas-komunitas arab ini didukung pula oleh jiwa dagang mereka, sehingga ketika mereka datang ke pekalongan, mereka membuka jalur perdagangan baru.

Disamping Habib Husein mendirikan masjid, beliaupun membuka pengajian dan pesantren untuk masyarakat. Metode pengajian yang beliau lakukan membuat masyarakat pribumi terus berdatangan ke pengajian beliau, sehingga pengaruh Islam di Kota Pekaongan cukup kuat. Seiring dengan berjalannya waktu, di Kampung Arab kedatangan seorang ulama Habib Ahmad Bin Abdullah Bin Tholib Alatas, beliau mempunyai tujuan yang sama dengan Habib Husein, awal kedatangannya beliau mendirikan Masjid Raudhoh, dan masjidnya masih kokoh berdiri hingga saat ini. Metode pengajaran Habib Ahmad cukup berbeda, beliau lebih modern pada saat itu, namun kolaborasi kedua ulama ini memberikan pengaruh yang cukup kuat di Pekalongan.

Dari suatu cerita, awal mula Habib Husein mendirikan Masjid Wakaf adalah beliau berkeyakinan jika kelak daerah ini akan menjadi pusat perdagangan di Kota Pekalongan. Dan benar saja, seiring dengan berjalannya waktu dan semakin banyak komunitas arab yang berdatangan dengan jiwa dagangnya, sekitar tahun 1950-1970 Kampung Arab menjadi sentra pusat perdagangan kain mori se Nusantara, sehingga harga kain mori pada saat itu mengacu harga di Kampung Arab. Pada saat itu Kampung Arab di Jalan Surabaya menjadi pusat keramaian masyarakat Pekalongan.

Seiring berjalannya waktu era perdagangan mengalami masa pasang surut, sehingga di tahun 1970an pusat ekonomi tersebut mulai menurun, harga produksi yang semakin mahal dikarenakan kebijakan Pemerintah pada saat itu yang cenderung tidak memihak pedagang mengakibatkan citra pusat ekonomi Kampung Arab mulai pudar. Namun pada saat ini kita bisa melihat bagaimana di Kampung Arab di Jalan Surabaya khususnya masih ada beberapa toko-toko dan galeri-galeri batik ataupun fashion yang masih berjualan, sehingga citra kawasan perdagangan masih melekat hingga saat ini.

Dari segi arsitektur bangunan, pada saat ini banyak bangunan-bangunan di Kampung Arab yang mengalami renovasi besar-besaran, sehingga arsitektur bangunan jaman dulu mulai hilang, namun masih ada beberapa bangunan yang masih mencirikan bangunan jaman dulu. Hal ini yang menjadi penelitian ibu Sri Pujiastuti, beliau menyampaikan beberapa temuan dan cerita mengenai arsitektural bangunan Kampung Arab dengan data dan gambar. suatu hal yang menarik tentunya, pada kegiatan mengenal sejarah Kampung Arab, kita tidak hanya belajar sejarah kawasan tersebut, namun kita juga belajar mengenai arsitektural bangunan. Suatu ilmu yang diberikan kepada masyarakat dengan tulus ikhlas memberikan suatu manfaat positif bagi masyarakat, agar masyarakat Pekalongan terutama generasi muda mampu belajar sejarah dan tidak melupakan sejarah. Sejarah merupakan cermin bagi kita untuk melangkah kedepan.

Menikmati Kesegaran Es Santan Pak Rasdi

Es Santan Pak Rasdi berada di komplek Kampung Batik Kauman Pekalongan, tepatnya di ujung gang Kauman dekat traffic light. Es Santan ini cukup legendaris di Pekalongan, tidak hanya warga Pekalongan saja yang menjadi pelanggan namun wisatawan dari luar kota sangat menikmati Es Santan ini ketika berkunjung ke Pekalongan.

IMG_4442

Es Santan Pak Rasdi sudah ada sejak tahun 1962, dimana dulu beliau berjualan keliling kampung di Pekalongan, Pada tahun 1973 Pak Rasdi mulai berjualan di Kauman sampai sekarang. Saat ini Es Santan Pak Rasdi sudah generasi ketiga yang menjadi penerusnya. Namun sensasi kesegaran Es Santan tidak berubah sama sekali.


IMG_4445

Es Santan ini berisikan cincau hitam, kolang-kaling, tape, roti tawar yang dipotong kotak-kotak kecil. Adapula campuran alpukat atau durian jika anda suka.

IMG_4443

Anda cukup membayar Rp.7.000 untuk segelas Es Santan Pak Rasdi, untuk Es Durian Rp. 10.000. Es Santan Pak Rasdi buka mulai 10.00 pagi – 21.00 malam.

Pekalongan itu Indah …..

Kota Pekalongan secara geografis terletak di pesisir utara Provinsi Jawa Tengah dengan kondisi topografi yang relatif datar dan kota Pekalongan terletak pada 1090 37’55” – 1090 42’19″ Bujur Timur dan 6050’42” – 6055’44” Lintang Selatan. Secara administratif Kota Pekalongan mempunyai luas wilayah sebesar 4.525Ha dari luas wilayah Provinsi Jawa Tengah yang seluas 3254 ribu Km2.

Landmark Batik

Kota Pekalongan terkenal dengan produksi BATIK nya, sesuai dengan Slogan Kota Pekalongan yaitu

B : Bersih

A : Aman

T : Tertib

I  : Indah

K : Komunikatif

Kerajinan Batik menjadi komoditi ekonomi masyarakat Kota Pekalongan, berbagai macam motif dan bentuk keanekaragaman Batik terdapat di Kota Pekalongan.

Dalam sisi historis, Kota Pekalongan memiliki riwayat historis yang sangat menarik, hal ini dapat dilihat dari bentuk keanekaragaman masyarakatnya yang ber-etnis ARJATI (Arab – Jawa – Tionghoa). Keanekaragaman etnis di Kota Pekalongan menjadikan Kota Pekalongan sebagai Kota yang beragam budaya dengan semangat toleransi antar etnis yang cukup baik dan erat, tidak membeda-bedakan yang satu dengan yang lain.

Kota Pekalongan bukan sebuah Kota yang besar, namun wajib dikunjungi bagi anda yang ingin berwisata tidak hanya sekedar belanja dan belajar tentang Batik, namun juga sebagai kota wisata yang mempunyai banyak destinasi, seperti :

  1. Wisata Alam
  2. Wisata Religi
  3. Wisata Cagar Budaya
  4. Wisaya Budaya
  5. Wisata Kuliner

Semua itu dapat dinikmati di Pekalongan dengan keunukan dan destinasi menarik yang tentunya wajib untuk dikunjungi oleh anda. Berbagai cerita mengenai sejarah dan budaya begitu kental dalam kehidupan masyarakat di Pekalongan. Keragaman multietnis terangkum dalam sebuah persaudaraan antar kampung atau tetangga yang terjalin begitu baik, keramahan, tepo sliro dan sopan santun selalu dikedepankan dalam pergaulan masyarakat di Pekalongan.

Sebuah Perjalanan

hmmm,,, blog ini saya buat sebagai dokumentasi perjalanan saya dalam menikmati keindahan dan keunikan sebuah daerah. tidak hanya itu saja, saya pun akan mendokumentasikan beberapa kuliner suatu daerah yang saya lewati.

tentunya dalam blog ini saya juga ingin menjalin networking bersama teman-teman pecinta blog yang ada di dalam ataupun luar negeri..

 

mari kita dokumentasikan setiap perjalanan dengan indah untuk Indonesia yang Indah