Eliza Van Zuylen, Sang Maestro Batik Indo Eropa

Siapa yang tidak tahu tentang Batik ?? salah satu produk kerajinan Indonesia yang mendunia. Menurut Wikipedia kata “batik” berasal dari gabungan dua kata bahasa Jawa: “amba”, yang bermakna “menulis” dan “titik” yang bermakna titik. Di Indonesia ada berbagai macam motif Batik yang memiliki karakteristik yang berbeda-beda disetiap daerah. Salah satu motif yang mungkin kita ketahui adalah Motif Mega Mendung dari Cirebon, Motif Parang dari Solo hingga Motif Jlamprang dari Pekalongan. Berbagai motif disetiap daerah biasanya mencirikan kondisi daerahnya sehingga setiap motif memiliki filosofis masing-masing. Jika kita tahu adapula motif Batik yang dipengaruhi oleh budaya dari luar. seperti Motif Batik Jawa Hokokai yang merupakan pengaruh dari Jepang, Motif Encim dari Tionghoa serta Motif Buketan dari pengaruh Eropa.

Motif-motif Batik pengaruh dari luar dibawa oleh orang-orang pendatang ketika menginjakkan kaki di nusantara. Seperti kita ketahui bahwa masa penjajahan Jepang pengaruh motif batik disesuaikan dengan budaya jepang salah satunya adalah bunga sakura yang ada di motif batik Jawa Hokokai. Begitupula ketika masa penjajahan belanda motif Buketan menjadi motif khas para ekspatriat pada masa itu yang disesuaikan dengan motif lokal. Batik Indo Eropa mulai berkembang antara tahun 1840 – 1940 di Pekalongan hingga akhirnya menjadi pasar batik di tingkat nasional ataupun internasional.

Ada beberapa pengrajin Batik Eropa pada saat itu seperti en Matzelar , Simonet, Eliza Van Zuylen  AJF Jans. Eliza van Zuylen adalah salah satu maestro Batik Indo Eropa yang cukup menarik perhatian saya. Eliza van Zuylen merupakan warga negara Belanda yang hidup antara tahun 1863 – 1947. Eliza Van Zuylen mempunyai nama asli Eliza Charlotta Niessen, beliau menetap di Pekalongan karena suaminya Alphons Van Zuylen merupakan seorang Pejabat Penilik dari Belanda yang ditugaskan di Pekalongan pada saat itu.

Foto Eliza Van Zuylen beserta keluarga besarnya
Foto Eliza Van Zuylen beserta keluarga besarnya

Menarik bagi saya untuk lebih mengetahui tentang batik, terutama Batik Indo Eropa. Karya Eliza Van Zuylen merupakan salah satu karya yang dicari pada saat itu sampai saat ini. Motif yang dikembangkan Eliza Van Zuylen adalah motif buketan bunga, karya beliau banyak dikenal dengan sebutan Van Zuylen Bouquet. Entah kenapa Batik karya Eliza Van Zuylen merupakan Batik yang sampai saat ini masih dicari, Rasa penasaran saya pun muncul, kira-kira apa yang menjadi keunggulan dari Batik karya Eliza Van Zuylen. Saya berupaya untuk mencari di berbagai situs web serta referensi-referensi lainnya. Kebetulan saya Orang Pekalongan, tentunya saya juga sangat ingin tahu seberapa besar pengaruh Eliza Van Zuylen pada saat itu di Pekalongan.

Gayung bersambut, Pekalongan memiliki Museum Batik yang menyimpan berbagai macam koleksi Batik di seluruh Nusantara. Museum Batik  diresmikan pada tahun 2006 oleh Presiden Susilo Bambang Yudhoyono bertepatan dengan diakuinya Batik sebagai warisan budaya tak benda oleh Unesco di Kota Pekalongan. Dan ternyata di Museum Batik menyimpan koleksi karya Eliza Van Zuylen.

Museum Batik Indonesia di Kota Pekalongan
Museum Batik Indonesia di Kota Pekalongan

Langkah saya terhenti ketika melihat salah satu kain sarung karya Eliza Van Zuylen disalah satu ruang pamer di Museum Batik Indonesia, Pekalongan. Jiwa ini terasa takjub, matapun tak dapat berkedip melihat sebuah karya yang begitu luar biasa. Benar saja motif yang saya lihat ini merupakan motif buketan dengan gambar bunga-bunga serta dikombinasikan dengan gambar burung. Ini hanya satu dari berbagai koleksi yang saya lihat, namun keindahan karya ini seakan tidak mampu saya ungkapkan dalam kata. Sungguh sebuah karya yang luar biasa dari seorang Eliza Van Zuylen.

Ruang Pamer Batik Indo Eropa di Museum Batik
Ruang Pamer Batik Indo Eropa di Museum Batik
Koleksi Kain Batik Karya Eliza Van Zuylen
Koleksi Kain Batik Karya Eliza Van Zuylen

Ada satu hal yang mencirikan Batik karya Eliza Van Zuylen, yaitu adanya tanda tangan dengan menggunakan tinta emas. Batik karya  Eliza van Zuylen pada saat itu diakui sebagai puncak karya cipta pengusaha batik Belanda. Batik karya Eliza van Zuylen memiliki tingkat kerumitan dalam hal ragam hias yang sangat detail serta keanekaragaman warna yang cukup banyak.

Salah satu Tanda Pada Kain Batik terdapat tulisan tangan Eliza Van Zuylen
Salah satu Tanda Pada Kain Batik terdapat tulisan tangan Eliza Van Zuylen

Seakan ingin tahu lebih lanjut mengenai Eliza Van Zuylen, saya mencoba mencari referensi di perpustakaan Museum Batik. Saya sangat terbantu sekali ternyata di Museum tidak hanya menampilkan koleksi batik namun juga ada perpustakaan yang menyimpan berbagai koleksi buku mengenai batik.

Berbagai Macam Koleksi Buku Mengenai Batik Di Perpustakaan Museum Batik Indonesia, Pekalongan
Berbagai Macam Koleksi Buku Mengenai Batik Di Perpustakaan Museum Batik Indonesia, Pekalongan

Dengan dibantu seorang guide, mas Fajar namanya beliau memberikan kepada saya mengenai Buku Batik Belanda karya Harmen C Veldhuisen, dimana salah satu isi dari buku tersebut mengulas mengenai Eliza Van Zuylen. Benar saja jika karya Eliza Van Zuylen merupakan karya yang begitu indah, kreatifitas Eliza Van Zuylen dalam memproduksi batik seakan tidak pernah berhenti pada saat itu. Eliza van Zuylen melakukan berbagai pengembangan motif dengan mengakulturasi berbagai unsur  budaya seperti Arab dan Tionghoa. Pada saat itu di Pekalongan etnis Arab dan Tionghoa cukup banyak berdatangan dengan membawa keragaman budaya masing-masing. Keberagaman unsur kebudayaan tionghoa terlihat pada munculnya corak teratai, burung merak.

Buku Batik Belanda Karya Harmen C Veldhuisen
Buku Batik Belanda Karya Harmen C Veldhuisen
Berbagai macam motif batik karya Eliza Van Zuylen terdokumentasikan di Buku Batik Belanda Karya Harmen C Veldhuisen
Berbagai macam motif batik karya Eliza Van Zuylen terdokumentasikan di Buku Batik Belanda Karya Harmen C Veldhuisen

Rasa penasaran saya tidak hanya berhenti pada sebuah kain karya Eliza van Zuylen, namun saya juga ingin mengetahui seberapa besar peran Eliza van Zuylen  pada saat itu di Pekalongan. Kali ini saya mencoba menggali dari seorang Pegiat Sejarah di Kota Pekalongan, beliau adalah Bapak @Arif_Dirhamzah. Dari beliau saya mendapat cerita bahwa Eliza van Zuylen dulu merupakan salah satu warga belanda yang mempunyai pengaruh dalam dunia perbatikan. Eliza van Zuylen memproduksi batik di rumahnya didaerah Bugisan yang kemudian berpindah ke Herenstraat  yang merupakan jalan ibukota pada waktu itu, saat ini kawasan Herenstraat sudah berubah menjadi kawasan perdagangan dan perkantoran, sehingga sangat susah untuk mencari jejak Eliza van Zuylen.

“ Eliza Van Zuylen memulai usaha pada tahun 1890 dengan memperkerjakan tiga wanita pembatik sebagai tenaga kerja tetap. Pada tahun 1904 pekarangan rumahnya di Bugisan sudah menjadi terlalu sempit untuk menampung jumlah pembatik yang semakin bertambah. Rumah tempat tinggal juga sudah terlalu kecil untuk keluarganya. Berkat penghasilan yang diperolehnya Eliza Van Zuylen berpindah ke Herenstraat “(Kutipan Buku Batik Belanda Karya Harmen C Veldhuisen)

Dari Bapak @Arif_Dirhamzah saya ditunjukkan bahwa Eliza van Zuylen Eliza meninggal pada masa Agresi militer Belanda kedua tahun 1947 di di sebuah biara di daerah Wonopringgo. Beliau di makamkan di Kerkoof Pekalongan, sebuah makam yang dikhususkan untuk orang-orang belanda pada saat itu.

Foto bersama Bapak @Arif_Dirhamzah (Berpeci Hitam)
Foto bersama Bapak @Arif_Dirhamzah (Berpeci Hitam) seorang pegiat sejarah pekalongan

Bersama Bapak @Arif_Dirhamzah saya diajak ke makam Kerkoff, dan ternyata disana pun kuburan sudah sebagian besar berubah menjadi kawasan permukiman, Saya tidak dapat melihat jejak makam dari Eliza van Zuylen, begitupula ketika kami mencoba bertanya ke masyarakat bahwa sudah tidak ada lagi data mengenai nama-nama yang dimakamkan disana. Sebuah fakta sejarah yang hilang ditelan waktu,

Eliza van Zuylen merupakan seorang maestro Batik yang patut untuk kita ketahui, berbagai karya beliau merupakan sebuah karya yang patut untuk dilestarikan. Tidak salah jika banyak orang yang bersedia mengeluarkan biaya besar untuk membeli karya dari Eliza van Zuylen. Jika kita lihat Eliza van Zuylen hanya memproduksi sebuah kain, namun dari kain itu ternyata mampu memberikan sebuah filosofis keberagaman.

” Ditangan Eliza Van Zuylen Keragaman Budaya menjadi sebuah Karya dalam

selembar Kain Batik”.

Eliza van Zuylen mampu mengkombinasikan unsur budaya Arab, Tionghoa dan Pribumi dalam sebuah kain batik. Tentunya ini menjadi pesan bagi kita agar dalam kehidupan di dunia senantiasa kita menjaga keberagaman tersebut, meskipun kita berbeda etnis, berbeda agama namun tidak menjadi jarak bagi kita untuk menjalin persaudaraan yang kuat.

Terimakasih Eliza Charlotta Niessen atau Eliza Van Zuylen, karyamu merupakan sebuah produk budaya yang mampu memberikan kontribusi besar dalam dunia perbatikan. Meski hanya dengan selembar kain, namun sangat berpengaruh dalam kondisi sosial masyarakat di Indonesia. Sebagai generasi penerus tentunya menjadi kewajiban bagi kita untuk terus melestarikan budaya bangsa dan tidak lupa akan sejarah bangsa kita. Sebuah perjalanan mencari wawasan sejarah mengenai sebuah kain batik karya Eliza Van Zuylen menambah pengetahuan bagi saya akan kekayaan Batik di Indonesia karena tidak hanya pengrajin batik dalam negeri saja namun ternyata ada pembatik luar negeri pada jaman dulu yang mempunyai pengaruh besar dalam perkembangan motif batik hingga saat ini.

Bagi kamu yang ingin melihat koleksi Batik karya Eliza Van Zuylen bisa dilihat di Museum Batik Indonesia di Kota Pekalongan yang berada di Kawasan Budaya Jetayu Kota Pekalongan.

Postingan ini diikutsertakan dalam kompetisi blog #KainDanPerjalanan yang diselenggarakan Wego

Ceritakan kisahmu mengenai kain pada lomba #KainDanPerjalanan Wego. Informasi lebih lanjut di Sini

SENSASI OUTBOND YANG BERBEDA DI PALAWI, BATURADEN

Baturaden, salah satu daerah yang berada di Purwokerto menyimpan potensi alam yang sangat indah, letaknya yang berada di kaki Gunung Slamet menjadi sebuah kawasan yang memiliki keindahan alam yang mampu dijadikan daya tarik wisata. Nama Baturaden tentu saja memiliki cerita sejarah, konon dulu merupakan percintaan antara seorang abdi dengan seorang putri adipati, karena kisah cintanya tidak direstui keduanya melarikan diri lalu menikah dan menetap disebuah desa, konon dari desa inilah kisah ini menjadi sebuah nama Baturaden yang diambil dari kata Batur yang artinya abdi dan keturunan Raden yang menunjukkan keturunan adipati.

Bagi kalangan masyarakat Jawa Tengah beberapa pasti sudah pernah mengunjungi Baturaden, namun bagi saya ini adalah kunjungan yang pertama sejak dari kecil. Cerita-cerita keindahan Baturaden senantiasa saya dapat dari beberapa teman dan kerabat, dan saya membuktikan sendiri betapa indahnya pesona alam di Baturaden.

Tidak banyak tempat di Baturaden yang saya kunjungi, namun ada beberapa tempat yang sangat saya rekomendasikan bagi anda yang suka dengan traveling dan outbond. Salah satu kawasan wisata outbond yang menarik dan wajib untuk dikunjungi adalah di Wana Wisata Palawi, Baturaden . Kita dapat menikmati hamparan keindahan pohon-pohon besar yang hijau, udara yang sejuk ketika pertama masuk ke kawasan tersebut. Sungguh keindahan yang membuat mata saya tidak berkedip menikmati setiap hembusan udara serta pemandangan yang indah. Untuk tarif masuk kita dikenakan biaya Rp.20.000 belum termasuk parkir.

Pintu Masuk Wana Wisata Pallawi
Pintu Masuk Wana Wisata Palawi, Baturaden

Kebetulan hari itu saya datang ke beserta rombongan dari Kota Pekalongan sehingga tiket tidak dibebankan, karena kami membayar sepenuhnya kepada biro tour untuk mengantar dan memberikan pelayanan wisata kepada kami ketika di Baturaden. Oiya, saya juga sangat merekomendasi bagi anda yang ingin menggunakan Jasa Biro Tour, di Baturaden ada beberapa biro yang bisa menjadi mitra perjalanan anda.

Di Palawi banyak berbagai macam wana wisata seperti : Camping Ground, Jungle Trekking, Flying Fox, Outbond, Tubbing, Curug, Kebun Bibit Tanaman, serta beberapa spesies kebun binatang mini.

Berbagai Macam Wisata Ada di Palawi, Baturaden
Berbagai Macam Wisata Ada di Palawi, Baturaden
Kebun Binatang Mini
Kebun Binatang Mini
Flying Fox
Flying Fox
Kebun Bibit Tanaman
Kebun Bibit Tanaman

Sungguh indah bukan wisata di Palawi, kita dapat melihat berbagai macam obyek wisata yang menarik perhatian kita. Namun, tidak hanya keindahan tersebut yang dapat kita nikmati karena di Palawi, Baturaden kita juga dapat melakukan kegiatan Outbond. Kegiatan outbond menjadi sarana bagi kita untuk dapat mengasah kekompakan dan kerjasama kepada teman atau rekan kita. Di Palawi seringkali menjadi sarana bagi sebuah kantor/instansi, akademi/sekolah untuk berkegiatan outbond, disamping memiliki alam yang indah namun juga adanya instruktur yang mampu memberikan motivasi, pelatihan dan semangat dalam setiap kegiatan outbond yang dilaksanakan. Kebetulan saya datang beserta rombongan ke Palawi salah satunya adalah untuk mengikuti kegiatan Outbond. berbagai macam permainan kami lakukan diantaranya adalah :

1. VOLLY AIR

Permainan Volly air
Permainan Volly air

Bermain volly air mengajarkan kekompakan agar dapat bersama-sama menangkap dan melempar balon yang diisi dengan air. Media tangkapnya menggunakan kain, dan kita dituntut untuk dapat bekerjasama dalam melempar atau menangkap bola.

2. TEBAK KATA

Permainan Tebak Kata
Permainan Tebak Kata

Dalam permainan tebak kata, kita dituntut untuk dapat menebak kata dengan dengan bahasa tubuh. Salah satu rekan kita akan bergaya untuk mempresentasikan sebuah kata benda atau kata kerja. Keriangan dan canda tawa begitu terasa karena permainan ini membuat kita mampu tertawa lepas sehingga segala kepenatan dalam pekerjaan bisa kita lupakan sejenak

3. MANDI SALJU

Permainan mandi salju menggambarkan kekompakan kita dalam tim, karena kita diharuskan untuk mengambil tepung dengan tangan lalu dioper kebelakang ke rekan tim tanpa menoleh kebelakang. Alhasil permainan ini membuat kita seakan mandi salju dengan menggunakan tepung. Dalam permainan ini saya tidak dapat mendokumentasikan karena tepung yang harus kita ambil membuat sekujur tubuh bertebaran dengan tepung 🙂 .

4. BAKIAK

Permainan Bakiak
Permainan Bakiak

Permainan ini seringkali dapat kita temui ketika lomba yang dilaksanakan pada hari kemerdekaan. Namun dalam outbond ini dimaksudkan untuk melatih kekompakan dan manajemen waktu, setiap berjalan menggunakan bakiak kita harus saling bersama-sama menyamakan waktu ketika mengambil kaki kanan ataupun kiri untuk melangkah.

5. PAINTBALL

Permainan Paintball
Permainan Paintball

Paintball menjadi kegiatan yang cukup menantang. Kita diharuskan berhadapan dengan regu lain dan saling menembak menggunakan senapan atau dalam paintball istilahnya adalah marker. Kegiatan paintball menjadi sarana kerjasama dan membangun teamwork agar dapat menghadapi segala rintangan atau hambatan bersama.

Tidak dapat dipungkiri bahwa outbond merupakan wisata khusus bagi anda yang disibukkan dengan pekerjaan atau bagi anda yang penat dengan kehidupan perkotaan, karena dengan outbond dapat membangun sebuah teamwork yang baik serta mampu meningkatkan kualitas kerja, mampu menjaga emosi, mampu tertawa lepas, serta yang paling penting adalah kita mampu bekerjasama satu sama lain dengan teman atau rekan kita.

Joged Bersama Para Trainer Outbond
Joged Bersama Para Trainer Outbond

Tentunya dalam kegiatan outbond kita harus didampingi oleh instruktur yang berpengalaman, dan di Baturaden kita dapat dengan mudah mengakses informasi di penginapan atau hotel mengenai biro perjalanan atau outbond training di Baturaden. Di Wana Wisata Palawi kita tidak hanya melakukan outbond namun keindahan alamnya menjadikan sensasi yang luar biasa, berbeda dengan tempat-tempat outbond yang lainnya. Perbedaan itu dapat kita rasakan ketika kita dimanjakan dengan hijaunya pohon-pohon, sejuknya udara, heningnya suara dari hiruk pikuk, serta indahnya kebun-kebun bibit tanaman.

Untuk menuju ke Wana Wisata Palawi dapat ditempuh dengan perjalanan darat dari Kota Purwokerto ke Palawi Baturaden kurang lebih selama 30 menit

Tulisan ini diikutsertakan dalam Lomba Blog Jateng Periode 5 dengan tema “Wisata Minat Khusus”

blog minat khusus

Cimpring dan Keripik Andil, Khazanah Jajanan Tradisional yang (tak) Terlupakan di Desa Candiareng

Nama Cimpring dan Keripik Andil mungkin tidak banyak masyarakat mengetahui, namun untuk masyarakat pekaongan, batang dan sekitarnya pasti mengetahuinya. Cimpring merupakan jajanan /snack tradisional yang menggunakan singkong sebagai bahan dasar. Dulu waktu kecil orangtua saya senang sekail dengan jajanan ini, bahkan menjadi menu wajib untuk teman nge teh atau ngopi.

Memang sekarang keberadaan jajanan ini cukup sulit untuk didapat kecuali jika kita mau menjelajah ke pasar-pasar tradisional. Sudah banyak jajanan yang lebih modern yang akhirnya membuat jajanan dan Keripik Andil ini tidak banyak juga diketahui oleh remaja atau anak-anak muda jaman sekarang. Padahal cimpring dan Keripik Andil bagi saya merupakan jajanan yang enak, gurih, serta cukup renyah.

Kebetulan waktu itu saya sedang jalan-jalan disekitar Desa Candiareng Kabupaten Batang. Saya diajak oleh teman untuk melihat proses produksi Cimpring dan Keripik Andil. Kesan pertama saya ketika melihat home industri tersebut sangatlah mengagumkan, dengan menggunakan rumah dan halaman belakang sebagai proses produksi serta pegawai yang sebagian besar adalah ibu-ibu.

Rumah Produksi Cimpring dan Keripik Andil
Rumah Produksi Cimpring dan Keripik Andil

Kebetulan saat itu saya berkunjung dirumah Pak Sutarno, beliau merupakan salah satu pelaku di industri pembuatan Cimpring dan Keripik Andil di Desa Candiareng. Pak Sutarno merupakan generasi kedua, ibunya yang bernama Bu Napsiah merupakan pelopornya. Produk yang dihasilkan hanyakah Cimpring dan Keripik Andil, dimana proses pembuatannya menggunakan bahan dasar singkong.

Singkong sebagai Bahan Dasar
Singkong sebagai Bahan Dasar

Semakin penasaran kan dengan Cimpring ditambah dengan Keripik Andil. Menurut cerita Pak Sutarno, produksi Cimpring dan Keripik Andil ini sudah sejak tahun 1980an dimana ibunya dulu menjadi pelopor di desanya. Dalam setiap harinya Pak Sutarno menghabiskan 3 kuintal singkong yang diolah menjadi Cimpring dan Keripik Andil dengan distribusi pemesanan di Batang dan sekitarnya dengan merk Ragil Putra.

Proses Pengupasan Singkong
Proses Pengupasan Singkong

Seiring perkembangan jaman dan banyaknya jajanan – jajanan varian baru, tidak menjadikan Pak Sutarno berhenti mengelola industri tradisional ini, Pak Sutarno menganggap bahwa jajanan tradisional ini perlu untuk terus dikembangkan agar generasi sekarang tahu bahwa pada jaman dahulu jajanan ini merupakan jajanannya masyarakat. Untuk itu Pak Sutarno berusaha keras meneruskan usaha orangtiuanya untuk terus memproduksi Cimpring dan Keripik Andil

Dalam memperoduksi Cimpring dan Keripik Andil prosesnya masih sangat sederhana, tidak menggunakan alat khusus hanya menggunakan alat yang dibuat oleh beliau sendiri untuk menghaluskan singkong yang nantinya menjadi bahan dasar utama.

Alat Penggilingan Singkong
Alat Penggilingan Singkong

Ada perbedaan dalam membuat Cimpring dan Keripik Andil meskipun keduanya menggunakan bahan dasar yang sama. Proses pembuatan Cimpring ada beberapa tahap :

  • Singkong dikuliti dan dicuci bersih
  • Kemudian singkong yang sudah bersih digiling di mesin penggilingan
  • Hasil singkong yang sudah digiling halus lalu dicampur dengan bumbu. Bumbu itu sendiri diantaranya adalah  bawang putih, merica, ketumbar, garam, kemiri yang ditumbuk dalam satu wadah. Yang menarik dalam pencampuran bumbu ini, bumbu masih dikerjakan oleh bu napsiah selaku pelopor utama. Meskipun usia bu napsiah yang sudah tua namun beliau masih mengolah bumbunya sendiri
  • Setelah singkong diberi bumbu, diletakkan dimeja cetak untuk dicetak bulat menggunakan alat yang sederhana
  • Setelah dicetak lalu singkong yang telah menjadi bahan dasar cimpring dijemur sekitar 5 jam
  • Proses penjemuran selesai cimpring bisa langsung digoreng
Proses Pembumbuan
Proses Pembumbuan
Proses Pencetakan
Proses Pencetakan
Proses Penjemuran
Proses Penjemuran
Cimpring Yang Sudah Jadi
Cimpring Yang Sudah Jadi

Cukup sederhana dalam membuat cimpring karena tidak emnggunakan alat dan bahan yang sulit. Pak Sutarno menjual Cimpring per buahnya dengan harga Rp.35.

Setelah mengetahui proses pembuatan Cimpring tidak pas jika tidak saya sampaikan proses pembuatan Keripik Andil. Pada dasarnya proses pembuatannya sama hanya beda dalam pencetakan, proses pembuatan keripik andil tersebut diantaranya :

  • Singkong dikuliti dan dicuci bersih
  • Singkong diigiling dengan menggunakan alat penggilingan
  • Singkon lalu dicetak bulat membentuk bulatan yang tidak terlalu kecil
  • Setelah dicetak singkong lalu direbus selama beberapa menit
  • Setelah proses perebusan, singkong dipiih untuk dapat dilanjutkan di proses berikutnya, perlu dipilih dan dipilah karena untuk mendapatkan hasil Keripik Andil yang baik tentunya juga menggunakan bahan yang baik dan cetakan yang baik
  • Salah satu yang membuat perbedaan dalam proses pembuatan Cimpring dan Keripik Andil adalah proses pembumbuannya. Proses pembumbuan Keripik andil ketika bahan dasarnya sudah direbus dan dipilah. Yang menarik adalah bumbu yang digunakan sama dengan bumbu Cimpring.
Proses Penggilingan
Proses Penggilingan
Proses Pencetakan
Proses Pencetakan
Proses Perebusan
Proses Perebusan
Proses Pemilahan
Proses Pemilahan
Proses Pengeringan
Proses Pengeringan

Keripik Andil dijual per kilo dengan harga RP. 20.000, sebuah harga murah yang bisa kita dapat dengan menikmati kelezatan Keripik Andil yang gurih dan renyah. Kenikmatan Cimpring dan Keripik Andil saya nikmati siang itu bersama teman-teman, sebuah sensasi yang luar biasa ketika menikmati jajanan tersebut langsung di lokasi pembuatannya.

DSC04598
Foto Bersama Ibu Napsiah

Ahhhhhh….semoga kenikmatan jajanan ini terus berlanjut sampai ke tahun-tahun berikutnya agar tidak tenggelam oleh adanya varian jajanan baru yang lebih modern. Perlu untuk kita terus melestarikan jajanan tradisional karena dengan ini kita dapat bersumbangsih dalam membangun eknomi masyarakat kecil serta membangun simpul sejarah kuliner tradisional.

Untuk ke lokasi Desa Candiareng dapat ditempuh dengan perjalanan darat melewati Kabupaten Batang dengan waktu tempuh sekitar setengah jam.

Hamparan Luas Sentra Batu Bata Desa Candiareng,

Matahari terasa panas menyengat siang itu, namun tidak menjadi hambatan bagi saya untuk melakukan perjalanan ke salah satu desa yang ada di Kabupaten Batang. Kali ini saya dan teman-teman mengunjungi Desa Candiareng, sebuah desa yang unik bagi saya karena penamaan desanya terdapat kata “Candi”. Keunikan itu mucul keika pertama kali saya masuk ke gerbang utama Desa Candiareng, terdapat landmark dengan ornamen Candi, bisa jadi ornamen candi menggambarkan kondisi desa tersebut. Rasa penasaran saya terus muncul , kira-kira  bagaimana saya bisa menggali cerita-cerita sejarah mengenai Desa Candiareng. Rasa penasaran itu ingin saya ungkapkan, dan kebetulan sekali di Desa Candiareng kami berkunjung dirumah mas Agus, seorang putra daerah yang aktif di Komunutas Batang Heritage. Silaturahim kami tidak hanya sekedar untuk jalan-jalan namun kami ingin mengulik potensi yang ada di Desa Candiareng terutama potensi kesejarahannya.

Gapura Desa Candiareng
Gapura Desa Candiareng

Diskusi pun kami mulai dengan sajian dari tuan rumah secangkir teh hangat dengan jajanan ringan, saya mencoba membuka prolog pembicaraan mengenai rasa penasaran saya tentang Desa candiareng. Mas agus selaku tuan rumah tidak banyak menceritakan historis tersebut namun beliau mengungkapkan bisa jadi dulu disini merupakan kawasan candi yang ada pada jaman dahulu, namun kembai lagi mas agus belum bisa membuktikan secara data dan dokumentasi. Tidak soal bagi saya, karena kedatangan saya dan teman-teman hanya sekedar ingin jalan-jalan dan mengulik berbagai potensi dari sebuah desa yang mungkin tidak banyak orang tahu.

Dari diskusi kami diajak oleh Mas Agus untuk melihat sentra batu bata yang merupakan kerajinan lokal khas Desa Candiareng. Hmmmm.. kembali rasa penasaran ini memuncak, dari cerita Mas Agus bahwa sentra batu bata ini merupakan sentra produksi dengan sistem yang tradisional yang sudah ada sejak beberapa puluh tahun yang lalu.

Perjalanan ke sentra batu bata sangatlah menarik, dengan jalan yang menanjak serta melewati ilalang dan menyebrang sungai dengan kondisi yang seadanya. Pengalaman yang menantang bagi saya harus menyebrang sungai dengan bambu yang alakadarnya. Sebuah pengalaman yang lucu pula karena saya cukup takut ketika menyebrang walaupun sebenarnya kondisi sungai bukanlah sungai yang mempunyai kedalaman tinggi.

Jalan Setapak Menyisir Hutan
Jalan Setapak Menyisir Hutan
Jembatan Bambu
Jembatan Bambu

Perjalanan kami lanjutkan dan tibalah kami di sentra batu bata tersebut,, Wowwwwwww, mata ini dimanjakan dengan banyaknya gubug-gubug tradisional sepanjang hamparan lahan yang cukup luas. Ternyata dulu tanah tersebut merupakan tanah pertanian, namun sekarang tanah pertanian tersebut berubah fungsi dan dijadikan galian untuk batu bata.

Suasana Kawasan Sentra Batu Bata Desa Candiareng
Suasana Kawasan Sentra Batu Bata Desa Candiareng
Gubug Tradisional
Gubug Tradisional

di kawasan Sentra Batu Bata ini ada sekitar 50 pengrajin  dan mereka sebagian ada yang penduduk asli namun adapula yang pendatang. Saya sempat menghampiri salah satu pengrajin, beliau adalah Bu Suparti yang sudah menjadi pengrajin batu bata sejak tahun 1980an. Bu Suparti ini merupakan penduduk asli desa candiareng,beliau bercerita bahwa dulu pengrajin belum seramai ini, sekarang jumlahnya cukup banyak. Para pengrajin menjual batu bata dengan harga Rp.1000 per batu bata. Para pengrajin mampu memproduksi dalam jumlah banyak setiap harinya dikarenakan sebagian besar mereka sudah mempunyai pelanggan sendiri yang ada di kota ataupun kabupaten sekitarnya.

Bu Suparti, Salah Satu Pengrajin Batu Bata
Bu Suparti, Salah Satu Pengrajin Batu Bata

Dari Bu Suparti saya mendapatkan cerita mengenai proses pembuatan batu bata. Pertama kalinya para pengrajin menggali tanah, tanah lalu dicampur dengan air dan dipadatkan serta dicetak persegi panjang. Setelah melalui proses cetak, lalu dijemur sampai kering. Proses penjemuran bisa berjam-jam tergantung cuaca.

Proses Menggali Tanah
Proses Menggali Tanah
Proses Mencetak
Proses Mencetak
Proses Pengeringan
Proses Pengeringan

Yang menarik adalah proses membakar dengan cara yang sangat tradisional, batu bata yang sudah dijemur ditumpuk serta dicampur dengan dedek (padi) lalu dibakar. Untuk proses pembakarannya bisa sampai 2 hari 2 malam. Sebuah proses yang cukup lama namun dapat menghasilkan sebuah produk yang bermanfaat. Tentunya para pengrajin ini dengan sabar bekerja sampai ada yang tinggal digubug-gubug tersebut untuk menjaga proses pembakaran batu bata nya.

DSC04552
“Dedek” salah satu bahan campuran untuk proses pembakaran
Kayu Bakar Yang Digunakan
Kayu Bakar Yang Digunakan

Proses pembakarannya cukup unik, Batu Bata yang sudah kering disusun dalam bentuk persegi panjang dan ditumpuk. Proses pembakaran dilakukan di gubug-gubug dengan api yang cukup kecil, sehingga memakan banyak waktu kurang kebih sekitar 2 hari untuk memadatkan Batu Bata.

Proses Pembakaran
Proses Pembakaran

Dari paguyuban pengrajin batu bata tersebut ternyata mereka mempunyai tradisi setiap tahunnya, paguyuban tiap tahun menggelar wayang golek sebagai berkah bagi pekerjaannya serta mampu memberikan hiburan bagi masyarakat. Sebuah proses yang mempunyai nilai budaya yang baik ketika paguyuban tidak hanya memikirkan pekerjaan dan penghasilannya sendiri namun juga mampu memberikan kontribusi dengan memberikan hiburan kepada masyarakat.

Mungkin ini pertama kalinya saya mengunjungi sebuah desa dengan sentra penghasil batu bata yang cukup banyak. Hamparan luas tanah yang mereka jadikan lahan produktif seakan membuka mata batin saya bahwa Tuhan selalu memberikan sumber daya alam yang cukup melimpah untuk dapat kita manfaatkan sebagai sumber penghasilan. Namun, kembali lagi kepada kita untuk tidak hanya menghabiskan sumber daya alam tersebut namun kita juga harus mampu menjaga dan merawat agar sumber daya alam tersebut tidak habis percuma serta dapat dimanfaatkan oleh anak dan cucu kita kelak nanti.

Kawasan Sentra Batu Bata Candiareng
Kawasan Sentra Batu Bata Candiareng

Bagi kamu yang suka jalan-jalan, Desa Candiareng bisa  menjadi destinasi wisata yang menarik, karena kita dapat melihat pemandangan alam yang masih natural, udara yang cukup sejuk serta kondisi sosial masyarakat yang akrab satu sama lain. Ada banyak pengrajin disini selain batu bata, adapula pengrajin bambu yang bisa kita jumpai ditiap gang-gang di Desa Candiareng.

Ketika Sungai Menjadi Perbincangan dalam Kongres Sungai Indonesia 2015

logo kongres

Sungaiii ???? terkadang kita menganggap sungai hanya sebuah aliran air yang tidak mempunyai manfaat bagi kehidupan kita. Seringkali kita memperlakukan sungai sebagai tempat pembuangan, baik pembuangan limbah, sampah ataupun untuk buang air kecil/buang air besar. Sebuah kenyataan yang cukup miris, padahal sungai merupakan sebuah aliran kehidupan bagi kita sebagai makhluk hidup. Sungai mengalirkan mata air bagi keberlangsungan hidup dan kelestarian lingkungan. Namun sungai sekarang menjadi kotor karena perlakuan kita yang tidak bersahabat. Kita tidak tahu bahwa sungai menyimpan peradaban yang luar biasa, dari sungai terdapat berbagai macam kehidupan dibawah air, dari sungai tumbuhan menjadi subur, dari sungai menjadi aliran yang dapat kita gunakan sebagai sumber mata air.

DSC04475
  Sungai Serayu, Banjarnegara

Berbagai macam persoalan mengenai pencemaran sungai terjadi di Indonesia, hampir disetiap daerah terjadi permasalahan mengenai sungai. Kita tidak tahu bahwa budaya peradaban leluhur kita yang sangat menjaga kelestarian sungai mengajarkan kita untuk bersyukur bahwa tuhan menciptakan sungai dengan air yang mengalir sebagai sumber penghidupan makhluk hidup. Semestinya anugerah ini kita jaga dan kita lestarikan dengan baik.

tercemar 2
Permasalahan Sungai
tercemar 1
Permasalahan Sungai

Permasalahan-permasalahan mengenai sungai menjadi bahan diskusi bagi teman-teman yang aktif dalam pelestarian sungai, tentunya persoalan tersebut akan menjadi menarik ketika para teman-teman pegiat sungai dari seluruh nusantara dapat berkumpul dan duduk bersama untuk membahas permasalahan tersebut. Gayung bersambut melalui Pemerintah Provinsi Jawa Tengah diadakanlah Kongres Sungai Indonesia pada tangal 26 agustus- 20 Agustus 2015. Kongres ini merupakan kongres yang pertama kalinya diadakan di indonesia dengan tuan rumah Kabupaten Banjarnegara, Jawa Tengah. Pemilihan Kabupaten Banjarnegara tentunya karena di Kabupaten Banjarnegara memiliki Sungai Serayu yang merupakan salah satu sungai terbesar di Indonesia yang melewati 6 Kabupaten sekaligus.

Tanpa diduga saya menjadi salah satu dari peserta Kongres Sungai tersebut, kebetulan saya mendapat email langsung dari panitia untuk menjadi peserta dalam kegiatan tersebut. Tentunya sebuah event yang tidak akan saya lewatkan karena kegiatan ini sangatlah positif, saya bisa bertemu dengan para pegiat sungai diseluruh nusantara begitupula akan banyak pengetahuan dari berbagai naarsumber baik dari Kementrian ataupun dari para pelaku/pegiat sungai yang sudah sukses dalam hal tersebut.

Kabupaten Banjarnegara salah satu daerah yang belum pernah saya singgahi, tentunya akan menjadi pengalaman yang menarik pula bagi saya untuk menikmati kesejukan udara yang dingin.

Dalam kongres Sungai saya berada pada komisi 6 yang membahas mengenai ekowisata sebagai budaya dalam pelestarian sungai. Kebetulan saya sangat tertarik dalam hal pariwisata dan tema ini sangat cocok bagi saya. Ada banyak peserta yang saya jumpai kurang lebih hampir 500 orang berkumpul dari penjuru nusantara, ada dari papua, sulawesi, kalimantan, sumatera dan pulau jawa sendiri. Selain presentasi dari narasumber kami sebagai peserta pun dharuskan untuk diskusi memberikan solusi dan membuat rencana dalam pengembangan tema tersebut dari segi komunitas.

Suasana Diskusi Komisi 6
Suasana Diskusi Komisi 6
Sesi Diskusi Umum
Sesi Diskusi Umum

Oiya,,dalam kongres tersebut semua unsur benar-benar dilibatkan, ada unsur dari komunitas/LSM, Kementrian, SKPD, Pegiat sungai serta Akademisi. Sebuah unsur yang dapat memberikan persepsi dari berbagai pihak yang nantinya akan menjadi sebuah rumusan bersama dari berbagai pemikiran.

Pembukaan Kongres Sungai dibuka oleh Puan Maharani mewakili dari Pemerintah Pusat, namun pada pembukaan tersebut saya belum datang dikarenakan hari kedua saya baru datang dan mengikuti kongres.

Karena saya baru hadir di hari kedua, saya mungkin akan banyak cerita dari awal kedatangan, pertama kalinya momen ini sangat membuat saya terpana dengan beragam acara yang ditampilkan dalam Kongres Sungai dari mulai diskusi serta ramah tamah mengenal satu sama lain. Banyak inovasi yang dilakukan oleh para peserta salah satunya yang membuat saya tertarik adalah pembuatan kapal sampah dengan menggunakan alumunium yang dilakukan oleh peserta dari Jogjakarta.

Inovasi Perahu Sampah
Inovasi Perahu Sampah

Tidak hanya itu, banyak keunikan lain diantaranya adalah saya dibuat terkejut ketika acara kongres selesai saya dan para peserta diberi penginapan di tenda / barak tentara yang berada di pinggir Sungai Serayu, tepatnya di Pikas Resort. Saya pun cukup tercengang bisa menginap dengan tenda yang cukup besar dan mendapat kasur lipat khas tentara indonesia, sebuah pengalaman yang sangat luar biasa bagi saya.

Tenda Untuk Menginap
Tenda Untuk Menginap

Tidak hanya sampai disitu, untuk makan pun saya dan para peserta lain mendapatkan sajian hidangan dari bapak-bapak tentara, dalam makan pun kami harus menyesuaikan tata tertib dari bapak-bapak tentara tersebut dari mulai mengambil piring saji, mengantri, menghabiskan makanan sampai mencuci piring saji sendiri. Ahhhh,,sungguh pengalaman yang menarik bagi saya apalagi menu masakan yang dimasak sangatlah enak.

Barak Makan
Barak Makan
Soto, Salah Satu Menu Makanan Para Peserta
Soto, Salah Satu Menu Makanan Para Peserta

Acara demi acara saya ikuti, kebetulan pada hari jumat siang tanggal 28 Agustus 2015 kedatangan  Menteri Pekerjaan Umum Bapak Basuki, diskusi kami semakin menjurus pada program-program pemerintah pusat dalam hal penanganan sungai. Muncul berbagai pendapat dimana dalam pengelolaan sungai belum memiliki kebijakan yang berkelanjutan, dalam birokrasi saja masih adanya beberapa kementrian yang mengelola sungai, pemerintah belum satu pintu dalam mengatur kebijakan tentang sungai sehingga satu kebijakan dengan yang lain saling tumpang tindih. Dalam kongres ini tentu saja dalam setiap diskusi dicari solusi bersama, dan bapak basuki sangat responsif dalam setiap masukan dan bersama-sama membangun komitmen dalam melestarikan sungai-sungai di indonesia.

Mentri Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat Memaparkan Materi
Mentri Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat Memaparkan Materi

Meskipun kegiatan Kongres Sungai ini lebih banyak diskusi namun kegiatan refreshing pun tetap ada, saya dan peserta yang lain dapat menikmati sejuknya udara di Banjarnegara, melihat derasnya Sungai Serayu yang mengalir. Berkeinginan juga untuk Rafting, namun apa daya karena padatnya acara saya hanya buisa menikmati keindahan sungai serayu.

Selfie di Sungai Serayu, Banjarnegara
Selfie di Sungai Serayu, Banjarnegara

Kegiatan Kongres Sungai ditutup pada hari minggu tanggal 30 Agustus 2015 dengan puncak acara adalah ada tradisi Parak iwak, dimana tradisi tersebut sebagai budaya masyarakat mengambil ikan yang ada di Sungai Serayu sebagai wujud keberkahan yang ada di dalam sungai.

Pesta Parak Iwak, Doc By Merdeka.com
Pesta Parak Iwak, Doc By Merdeka.com

Tidak lupa dalam penutupan tersebut Gubernur Jawa Tengah Bapak Ganjar Pranowo menutup dan diakhiri dengan pembacaan maklumat sungai. Hmmm….tentunya kongres ini bukan sekedar kongres, kami mencoba menggali permasalahan, menggalin potensi, mencari solusi dan membangun harapan bersama untuk Sungai indonesia.. semoga lestari terus alamku, mengalir indah sungaiku sebagai wujud peradaban yang senantiasa kita syukuri…

Salamm….