Hamparan Luas Sentra Batu Bata Desa Candiareng,

Matahari terasa panas menyengat siang itu, namun tidak menjadi hambatan bagi saya untuk melakukan perjalanan ke salah satu desa yang ada di Kabupaten Batang. Kali ini saya dan teman-teman mengunjungi Desa Candiareng, sebuah desa yang unik bagi saya karena penamaan desanya terdapat kata “Candi”. Keunikan itu mucul keika pertama kali saya masuk ke gerbang utama Desa Candiareng, terdapat landmark dengan ornamen Candi, bisa jadi ornamen candi menggambarkan kondisi desa tersebut. Rasa penasaran saya terus muncul , kira-kira  bagaimana saya bisa menggali cerita-cerita sejarah mengenai Desa Candiareng. Rasa penasaran itu ingin saya ungkapkan, dan kebetulan sekali di Desa Candiareng kami berkunjung dirumah mas Agus, seorang putra daerah yang aktif di Komunutas Batang Heritage. Silaturahim kami tidak hanya sekedar untuk jalan-jalan namun kami ingin mengulik potensi yang ada di Desa Candiareng terutama potensi kesejarahannya.

Gapura Desa Candiareng
Gapura Desa Candiareng

Diskusi pun kami mulai dengan sajian dari tuan rumah secangkir teh hangat dengan jajanan ringan, saya mencoba membuka prolog pembicaraan mengenai rasa penasaran saya tentang Desa candiareng. Mas agus selaku tuan rumah tidak banyak menceritakan historis tersebut namun beliau mengungkapkan bisa jadi dulu disini merupakan kawasan candi yang ada pada jaman dahulu, namun kembai lagi mas agus belum bisa membuktikan secara data dan dokumentasi. Tidak soal bagi saya, karena kedatangan saya dan teman-teman hanya sekedar ingin jalan-jalan dan mengulik berbagai potensi dari sebuah desa yang mungkin tidak banyak orang tahu.

Dari diskusi kami diajak oleh Mas Agus untuk melihat sentra batu bata yang merupakan kerajinan lokal khas Desa Candiareng. Hmmmm.. kembali rasa penasaran ini memuncak, dari cerita Mas Agus bahwa sentra batu bata ini merupakan sentra produksi dengan sistem yang tradisional yang sudah ada sejak beberapa puluh tahun yang lalu.

Perjalanan ke sentra batu bata sangatlah menarik, dengan jalan yang menanjak serta melewati ilalang dan menyebrang sungai dengan kondisi yang seadanya. Pengalaman yang menantang bagi saya harus menyebrang sungai dengan bambu yang alakadarnya. Sebuah pengalaman yang lucu pula karena saya cukup takut ketika menyebrang walaupun sebenarnya kondisi sungai bukanlah sungai yang mempunyai kedalaman tinggi.

Jalan Setapak Menyisir Hutan
Jalan Setapak Menyisir Hutan
Jembatan Bambu
Jembatan Bambu

Perjalanan kami lanjutkan dan tibalah kami di sentra batu bata tersebut,, Wowwwwwww, mata ini dimanjakan dengan banyaknya gubug-gubug tradisional sepanjang hamparan lahan yang cukup luas. Ternyata dulu tanah tersebut merupakan tanah pertanian, namun sekarang tanah pertanian tersebut berubah fungsi dan dijadikan galian untuk batu bata.

Suasana Kawasan Sentra Batu Bata Desa Candiareng
Suasana Kawasan Sentra Batu Bata Desa Candiareng
Gubug Tradisional
Gubug Tradisional

di kawasan Sentra Batu Bata ini ada sekitar 50 pengrajin  dan mereka sebagian ada yang penduduk asli namun adapula yang pendatang. Saya sempat menghampiri salah satu pengrajin, beliau adalah Bu Suparti yang sudah menjadi pengrajin batu bata sejak tahun 1980an. Bu Suparti ini merupakan penduduk asli desa candiareng,beliau bercerita bahwa dulu pengrajin belum seramai ini, sekarang jumlahnya cukup banyak. Para pengrajin menjual batu bata dengan harga Rp.1000 per batu bata. Para pengrajin mampu memproduksi dalam jumlah banyak setiap harinya dikarenakan sebagian besar mereka sudah mempunyai pelanggan sendiri yang ada di kota ataupun kabupaten sekitarnya.

Bu Suparti, Salah Satu Pengrajin Batu Bata
Bu Suparti, Salah Satu Pengrajin Batu Bata

Dari Bu Suparti saya mendapatkan cerita mengenai proses pembuatan batu bata. Pertama kalinya para pengrajin menggali tanah, tanah lalu dicampur dengan air dan dipadatkan serta dicetak persegi panjang. Setelah melalui proses cetak, lalu dijemur sampai kering. Proses penjemuran bisa berjam-jam tergantung cuaca.

Proses Menggali Tanah
Proses Menggali Tanah
Proses Mencetak
Proses Mencetak
Proses Pengeringan
Proses Pengeringan

Yang menarik adalah proses membakar dengan cara yang sangat tradisional, batu bata yang sudah dijemur ditumpuk serta dicampur dengan dedek (padi) lalu dibakar. Untuk proses pembakarannya bisa sampai 2 hari 2 malam. Sebuah proses yang cukup lama namun dapat menghasilkan sebuah produk yang bermanfaat. Tentunya para pengrajin ini dengan sabar bekerja sampai ada yang tinggal digubug-gubug tersebut untuk menjaga proses pembakaran batu bata nya.

DSC04552
“Dedek” salah satu bahan campuran untuk proses pembakaran
Kayu Bakar Yang Digunakan
Kayu Bakar Yang Digunakan

Proses pembakarannya cukup unik, Batu Bata yang sudah kering disusun dalam bentuk persegi panjang dan ditumpuk. Proses pembakaran dilakukan di gubug-gubug dengan api yang cukup kecil, sehingga memakan banyak waktu kurang kebih sekitar 2 hari untuk memadatkan Batu Bata.

Proses Pembakaran
Proses Pembakaran

Dari paguyuban pengrajin batu bata tersebut ternyata mereka mempunyai tradisi setiap tahunnya, paguyuban tiap tahun menggelar wayang golek sebagai berkah bagi pekerjaannya serta mampu memberikan hiburan bagi masyarakat. Sebuah proses yang mempunyai nilai budaya yang baik ketika paguyuban tidak hanya memikirkan pekerjaan dan penghasilannya sendiri namun juga mampu memberikan kontribusi dengan memberikan hiburan kepada masyarakat.

Mungkin ini pertama kalinya saya mengunjungi sebuah desa dengan sentra penghasil batu bata yang cukup banyak. Hamparan luas tanah yang mereka jadikan lahan produktif seakan membuka mata batin saya bahwa Tuhan selalu memberikan sumber daya alam yang cukup melimpah untuk dapat kita manfaatkan sebagai sumber penghasilan. Namun, kembali lagi kepada kita untuk tidak hanya menghabiskan sumber daya alam tersebut namun kita juga harus mampu menjaga dan merawat agar sumber daya alam tersebut tidak habis percuma serta dapat dimanfaatkan oleh anak dan cucu kita kelak nanti.

Kawasan Sentra Batu Bata Candiareng
Kawasan Sentra Batu Bata Candiareng

Bagi kamu yang suka jalan-jalan, Desa Candiareng bisa  menjadi destinasi wisata yang menarik, karena kita dapat melihat pemandangan alam yang masih natural, udara yang cukup sejuk serta kondisi sosial masyarakat yang akrab satu sama lain. Ada banyak pengrajin disini selain batu bata, adapula pengrajin bambu yang bisa kita jumpai ditiap gang-gang di Desa Candiareng.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s